Menyalakan Harapan dari Sungai: Jalan Sunyi Energi Mikro Hidro di Tanah Adat Teluk Wondama
YALI PAPUA — Di tepian hutan yang masih lebat dan sungai yang mengalir jernih di Teluk Wondama, harapan tentang masa depan energi perlahan mulai menemukan bentuknya. Bukan dari deru mesin besar atau jaringan listrik raksasa, melainkan dari aliran air yang selama ini setia menghidupi kampung-kampung adat.
Di kota kecil Wasior, Yayasan Lingkungan Hidup Papua (YALI Papua), Jumat, 20 Maret 2026, duduk bersama pemerintah daerah. Sebuah pertemuan yang tampak sederhana, namun menyimpan gagasan besar: menghadirkan listrik yang adil, ramah lingkungan, dan berpihak pada masyarakat adat melalui teknologi mikro hidro.
Bagi banyak wilayah pedalaman di Wondama, listrik masih menjadi kemewahan. Malam datang lebih cepat ketika gelap tak bisa ditolak, dan aktivitas masyarakat terhenti seiring redupnya cahaya. Di tengah keterbatasan itu, YALI Papua menawarkan pendekatan yang berbeda—memanfaatkan potensi alam tanpa merusaknya.
Teknologi mikro hidro menjadi pilihan yang bukan sekadar teknis, tetapi juga filosofis. Ia bekerja mengikuti alam, bukan melawannya. Aliran sungai yang selama ini menjadi sumber kehidupan diubah menjadi energi listrik tanpa harus menebang hutan atau mengubah bentang alam secara drastis.
Audiensi ini menjadi langkah awal dari sebuah perjalanan panjang menuju kemandirian energi. Lebih dari sekadar pembangunan infrastruktur, gagasan ini menyentuh aspek yang lebih dalam: kedaulatan masyarakat adat atas sumber daya mereka sendiri.
Bupati Elysa Auri melihat inisiatif ini sebagai peluang strategis. Baginya, listrik bukan hanya soal penerangan, tetapi tentang masa depan masyarakat adat di wilayahnya.
“Ini bukan hanya soal listrik, tetapi bagaimana masyarakat bisa berdaulat atas sumber daya alamnya sendiri tanpa merusak lingkungan,” ujarnya.
Pernyataan itu menggambarkan perubahan cara pandang pembangunan—dari eksploitasi menuju keberlanjutan, dari ketergantungan menuju kemandirian.
Di sisi lain, Direktur YALI Papua, Nicodemus Yomaki, menegaskan bahwa proyek ini tidak akan berjalan dengan pendekatan top-down. Masyarakat adat akan menjadi aktor utama, bukan sekadar penerima manfaat. Mereka dilibatkan sejak tahap perencanaan, pembangunan, hingga pengelolaan.
Pendekatan berbasis komunitas ini penting, karena keberlanjutan tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi oleh rasa memiliki. Ketika masyarakat merasa bahwa sistem ini adalah milik mereka, maka mereka pula yang akan menjaganya.
“Kami melakukan ini sebagai bentuk edukasi sehingga masyarakat sendiri menjaga dan melestarikan hutan mereka dengan nilai-nilai adat yang sudah berjalan sejak dulu,” ungkap Direktur YALI Papua, Nicodemus Yomaki.
Mikro hidro sendiri bukan hal baru di Indonesia. Di berbagai wilayah seperti Papua dan Kalimantan Barat, teknologi ini telah terbukti mampu menghadirkan listrik yang stabil dan berkelanjutan. Dengan biaya yang relatif terjangkau dan skala yang fleksibel, sistem ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan kampung.
Namun, di Teluk Wondama, proyek ini membawa makna lebih dari sekadar teknologi. Ia menjadi simbol perlawanan halus terhadap model pembangunan yang sering kali mengabaikan masyarakat adat dan merusak lingkungan.
Kerja sama antara pemerintah daerah dan YALI Papua diharapkan melahirkan model baru pengelolaan energi terbarukan yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memperkuat ekonomi lokal dan ketahanan sosial masyarakat adat.
Langkah berikutnya sudah mulai disiapkan. Pemetaan potensi sungai akan dilakukan, diikuti dengan pembangunan proyek percontohan di beberapa kampung prioritas. Dari sana, model ini akan dikembangkan lebih luas, menjangkau wilayah-wilayah yang selama ini terpinggirkan dari akses energi.
Victor Riminduby, Plt. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung Kabupaten Teluk Wondama, mengakui pihaknya siap mengawal proses pengembangan teknologi mikro hidro yang diinisiasi oleh YALI Papua, dengan memanfaatkan sumber daya alam berupa sungai yang memiliki debit air cukup untuk mencukupi kebutuhan energi ramah lingkungan di Kampung Wombu.
“Kita tidak boleh bergantung kepada siapa pun. Kalau kita punya potensi, mari kita kelola bersama untuk kemajuan dan kemandirian kampung,” tuturnya.
Ia melanjutkan, kolaborasi antara YALI Papua dan Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama dalam pengembangan teknologi mikro hidro akan disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan, tergantung pada apa saja kebutuhan prioritas dalam tahap pembangunan perangkat pendukung.
Tokoh Adat Suku Mairasi, Thomas Sabarnao, mengapresiasi program yang diinisiasi oleh YALI Papua sebagai bagian dari menjawab pergumulan warga Kampung Wombu yang selama bertahun-tahun hidup dalam kegelapan energi yang tidak kunjung berakhir.
Dirinya berharap bahwa masyarakat adat Mairasi semakin berdaulat atas sumber daya alamnya sendiri dan tidak lagi bergantung pada perusahaan kayu yang setiap kali mengeksploitasi sumber daya alam mereka, terutama kayu, dengan iming-iming barter solar sebagai solusi energi di wilayah mereka.
“Kami sudah bosan. Cara-cara perusahaan tebang pohon satu, kasih minyak untuk genset sedikit, seperti kami ditipu,” ungkap Theo Sabarnao.
Di tengah derasnya arus pembangunan dan ekspansi proyek besar, inisiatif mikro hidro di Teluk Wondama hadir sebagai pengingat bahwa solusi tidak selalu harus besar dan megah. Terkadang, ia justru mengalir pelan—seperti sungai—namun mampu menghidupkan banyak harapan.
Dan dari sungai-sungai kecil itulah, cahaya untuk masa depan masyarakat adat Teluk Wondama mulai dinyalakan.