Melestarikan Adat dan Budaya Alam: Peran YALI Papua dalam Pengelolaan Kekayaan Alam Berkelanjutan
Jayapura – Papua dikenal sebagai rumah bagi kekayaan alam yang melimpah dan keragaman budaya yang unik. Namun, di tengah gempuran pembangunan, masyarakat adat menghadapi ancaman serius terhadap tanah, hutan, dan identitas budaya mereka. Sejak 26 Oktober 1994, Yayasan Lingkungan Hidup Papua (YALI Papua) hadir sebagai organisasi masyarakat sipil yang berkomitmen melindungi lingkungan sekaligus memperjuangkan hak-hak masyarakat adat.
YALI Papua menjalankan berbagai program utama, mulai dari advokasi lingkungan, konservasi, hingga pengelolaan kekayaan alam berbasis masyarakat adat. Fokusnya jelas: memastikan masyarakat adat dapat menguasai, mengontrol, dan mengelola kekayaan alam mereka secara bebas, sambil menjaga lembaga adat dan budaya yang menjadi penopang kehidupan yang ditinggalkan para leluhur mereka.
Visi dan Misi
Visi YALI Papua adalah membangun tatanan masyarakat di mana masyarakat adat, khususnya di Tanah Papua, memiliki kendali penuh atas kekayaan alamnya serta mampu mengembangkan lembaga adat adat untuk mewujudkan kemandirian dan pengembangan diri mereka secara bebas. Misinya: memfasilitasi tumbuh dan berkembangnya masyarakat adat Papuan agar mereka mampu mempertahankan diri, memiliki dan mengelola kekayaan alam mereka, serta mengembangkan budaya secara bebas tanpa tekanan dari luar.
Perjuangan di Sungai Mamberamo
Sejak awal kiprahnya, YALI Papua tak hanya berbicara di ruang diskusi. Pada 1997, lembaga ini melakukan studi awal mengenai kondisi ekosistem Sungai Mamberamo serta kehidupan masyarakat adat di sekitarnya. Studi ini menjadi dasar advokasi menolak rencana pembangunan waduk raksasa (PLTA) di kawasan tersebut, yang dikhawatirkan dapat merusak lingkungan dan menggusur hak ulayat masyarakat.
“Kerja di Mamberamo mengajarkan bahwa perjuangan lingkungan tidak bisa dipisahkan dari perjuangan adat. Alam adalah hidup, dan masyarakat adat adalah penjaganya,” ungkap salah satu staf YALI Papua.
Menjaga Identitas dan Ekosistem
Pelestarian adat dan budaya serta alam di Papua bukan sekadar menjaga tradisi, tetapi juga bagian penting dari upaya melindungi manusia dan keanekaragaman hayati. Kearifan lokal masyarakat adat dalam mengelola hutan, sungai, dan tanah telah terbukti menjaga keseimbangan ekosistem selama berabad-abad.
Melalui berbagai kegiatan penelitian, pendampingan, dan pemberdayaan, YALI Papua terus mendorong generasi muda, termasuk kami mahasiswa magang untuk memahami pentingnya keterhubungan antara adat, budaya, dan lingkungan.
“Tanah Papua tidak hanya kaya akan kekayaan alam, yang juga menjadi sumber-sumber hidup masyarakat adat, tetapi juga kaya akan nilai dan pengetahuan lokal yang diwariskan oleh para leluhur. Tugas kita adalah memastikan keduanya tetap lestari untuk generasi mendatang,” tegas Direktur Eksekutif YALI Papua.
Menatap Masa Depan
Kini, YALI Papua melanjutkan kerja bersama masyarakat adat di berbagai wilayah, termasuk kawasan Mairasi. Melalui kolaborasi, mereka berharap semakin banyak anak muda yang tergerak belajar, kembali ke kampung, dan ikut menjaga adat serta alam.
Karena menjaga manusia dan lingkungan di Tanah Papua bukan hanya soal hutan atau sungai atau laut, tetapi juga tentang melindungi identitas, harga diri, dan masa depan masyarakat adat di Tanah Papua.
(Oleh Fira Nurjuliyani. Mahasiswa Magang, Universitas Sains dan Teknologi Jayapura)