Memperkuat Identitas dan Mengamankan Wilayah Adat: Lokakarya II Pemetaan Wilayah Adat Suku Mairasi Digelar
Manokwari, Papua Barat - Aula Hotel Mansinam Beach menjadi saksi semangat pelestarian adat dan budaya, dan perlindungan hak masyarakat adat dalam Lokakarya II Pemetaan Wilayah Adat Suku Mairasi pada 20–22 September 2024. Kegiatan ini mempertemukan Tim Pemetaan Wilayah Adat dari masyarakat adat suku Mairasi,, Yayasan Lingkungan Hidup Papua (YALI Papua), dan tim Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA) Papua.
Lokakarya ini merupakan lanjutan dari proses pemetaan partisipatif wilayah adat Suku Mairasi. Tujuannya adalah mendokumentasikan batas tradisional, nama-nama tempat, serta kekayaan budaya yang melekat pada tanah leluhur mereka. Direktur YALI Papua menekankan pentingnya kerja kolektif dalam kegiatan ini dan mengingatkan peserta untuk menjaga kesehatan selama lokakarya tiga hari penuh.
Lebih dari sekadar menggambar peta, pemetaan ini berfungsi sebagai upaya merevitalisasi pengetahuan tradisional. “Nama tempat, nama tumbuhan, nama binatang, nama gunung—itu bukan orang di Jawa yang kasih tahu, tapi kita sendiri. Proses ini membantu kita yang tua maupun yang muda untuk mengingat kembali pengetahuan itu,” ujar Direktur YALI Papua. Ia juga menegaskan bahwa pemetaan adalah langkah strategis menghadapi ancaman deforestasi dan perampasan lahan adat, sebagaimana terjadi di Merauke.
Sesi inti diisi dengan presentasi dari empat kelompok kerja: Emana, Iramaika, Naroro, dan Wondama, yang memaparkan hasil kunjungan lapangan, termasuk data spasial (peta sketsa dan peta citra), dan data sosial budaya.
-
Kelompok Emana menyampaikan progres dari beberapa kampung, meskipun akses ke Kampung Adi Jaya masih terkendala cuaca laut. Mereka disoroti tentang pentingnya penataan informasi peta agar peta tidak terlihat terlalu luas tetapi kosong data.
-
Kelompok Iramaika menjangkau 16 kampung dengan fokus pada pengumpulan data spasial dan data sosial. Mereka telah mulai mengidentifikasi batas wilayah dengan suku tetangga seperti Kuri.
-
Kelompok Naroro memusatkan pengerjaan pemetaan di Kampung Wanggatnao, tetapi masih kurang data di wilayah yang berdekatan dengan batas Timur wilayah adat suku Mairasi. Tantangan muncul karena belum semua kepala suku dan masyarakat mengerti pentingnya pemetaan wilayah adat danbersedia terlibat dalam prosesnya, namun batas wilayah dan elemen penting sudah mulai dipetakan.
-
Kelompok Wondama mengerjakan peta mereka di Kampung Inyora dengan keterlibatan kepala-kepala suku dan pemuda. Kendala alat tulis menjadi catatan penting untuk tindak lanjut. Kemudian, sdr. Agus dari BRWA Papua memberikan sejumlah masukan atas hasil kerja masing-masing kelompok.
Hari kedua lokakarya difokuskan pada klarifikasi dan verifikasi peta lapangan, mencakup elemen-elemen seperti sungai, gunung, tempat keramat, dusun sagu, serta sejarah batas wilayah. Identifikasi batas antar wilayah adat dan dengan suku tetangga juga menjadi agenda penting, termasuk strategi penyelesaian potensi konflik.
Diskusi mendalam terjadi seputar tantangan pemetaan, seperti keterbatasan alat, hambatan transportasi, hingga isu ketidakpercayaan. Namun, semangat kolektif tetap tinggi karena kesadaran akan pentingnya pemetaan demi pengakuan dan perlindungan wilayah adat suku Mairasi bagi generasi mendatang.
BRWA menekankan pentingnya kelengkapan data dalam peta sketsa dan citra, termasuk garis batas yang jelas, nama-nama tempat, serta catatan sejarah dan konflik. Proses digitalisasi peta akan dilanjutkan dengan pendampingan dari tim BRWA.
Menjaga Warisan Leluhur, Menatap Masa Depan
Lokakarya ini menjadi momentum penting bagi masyarakat adat Mairasi untuk memperkuat identitas, menegaskan batas wilayah, dan menjaga kekayaan budaya serta alam dari berbagai ancaman eksternal. Peta yang dihasilkan diharapkan menjadi dokumen komprehensif yang memperkuat perjuangan hak-hak masyarakat adat.