Masyarakat Mairasi di Kampung Kensi Menanam 400 Bibit Pohon Merbau
Kensi, Kaimana -- Kepedulian Masyarakat Mairasi terhadap lingkungan hutan di wilayah adatnya yang tercabik akibat operasi pengusaha HPH tampaknya sangat besar. Hal itu terkuak dari semangat mereka menghutankan kembali area bekas HPH dengan menanam bibit pohon merbau di salah satu pusat pembibitan milik masyarakat adat Mairasi di kampung Kensi, distrik Arguni atas, Kabupaten Kaimana.
Sebanyak 400 bibit pohon Merbau berhasil ditanam secara swadaya oleh pemuda, perempuan, dan tokoh adat Mairasi di lokasi bekas HPH tersebut pada KM 07 dan KM 11, pada 03 Maret 2025. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya reboisasi wilayah adat Mairasi untuk memulihkan hutan tropis yang rusak akibat eksploitasi perusahaan HPH di masa lalu. Persiapan bibit tanaman sebelum aksi tanam di hutan adat.
Penanaman dilakukan dalam satu hari, dengan partisipasi aktif warga Kampung Kensi dan kampung-kampung Mairasi lainnya di sekitar wilayah Arguni Atas serta warga Kampung Wosimo/Wombu yang menggunakan mobil dari Wombu ke Kensi. Proses diawali dengan ritual adat sebagai bentuk penghormatan terhadap alam, kemudian dilanjutkan dengan penanaman 400 bibit pohon Merbau, masing-masing 200 pohon pada pagi hingga siang dan dilanjutkan siang hingga menjelang sore.
Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari program penanaman kembali hutan yang telah dilakukan di kampung-kampung lain di distrik Naikere, kabupaten Teluk Wondama, oleh masyarakat adat Mairasi bersama YALI Papua.
"Reboisasi ini bukan hanya untuk mengembalikan hutan kami yang rusak, tetapi juga memperkuat hak adat dan identitas kami sebagai masyarakat adat Mairasi," ujar salah satu tokoh adat yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
Kampung Torowar dan kampung Kensi miliki pusat pembibitan tanaman hutan dan tanaman lainnya, termasuk pohon Merbau, untuk mendukung target jangka panjang masyarakat Mairasi untuk menanam satu juta pohon di wilayah adat mereka. Penanaman ini juga menjadi sarana pembelajaran nilai-nilai adat dan budaya, dan pelestarian lingkungan bagi generasi muda, sekaligus menjadi bentuk kontribusi nyata suku Mairasi dalam mitigasi perubahan iklim.
Kegiatan penanaman pohon merbau ini ditutup dengan jamuan makan bersama sebagai simbol keberhasilan mereka dalam menghijaukan kembali hutan adat warisan leluhur mereka.